“Dan peliharalah diri kalian dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang dzalim saja di antara kalian.” (Al-Anfal: 25)
Jika
kita kaji Perang Uhud, kita temukan sebab kekalahan kaum Muslimin di
dalamnya ialah indispliner sebagian pasukan pemanah, yang jumlah mereka
tidak mencapai 4%, dari jumlah total pasukan kaum Muslimin ketika itu.
Apa akibatnya? Tujuh puluh sahabat terbunuh, perut mereka dibelah,
hidung dan telinga mereka dipotong-potong, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam terluka, wajah beliau terluka, dan gigi antara gigi seri dengan gigi taring beliau tercabut. Kendati demikian, Allah Ta’ala memaafkan mereka, seperti dijelaskan Al-Qur’an,
“Dan sesunggunya Allah memaafkan kalian.” (Ali-Imran: 152).
Seseorang
berkata kepada Al-Hasan Al-Bashri, “Bagaimana Allah memaafkan para
pemanah, padahal tujuh puluh sahabat terbunuh?” Al-Hasan Al-Bashri
menjawab, “Kalau sekiranya Allah tidak memaafkan mereka, tentu Dia
menghabisi mereka semua.”
Itu semua akibat kemaksiatan, seperti dijelaskan Allah Ta’ala,
“Dan mengapa ketika kalian ditimpa musibah (di Perang Uhud), padahal kalian telah menimpakan kekalahan
dua kali lipat kepada musuh-musuh kalian (di Perang Badar) kalian
berkata, ‘Dari mana datangnya (kekalahan) ini? ‘katakan, ‘Itu dari diri
kalian sendiri”.” (Ali-Imran: 165).
Allah Ta’ala berfirman,
“Pada
saat kalian lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai
perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepada kalian apa yang
kalian sukai.” (Ali-Imran: 152).
Masalah
ini juga terlihat dengan jelas di Perang Hunain. Di awal perang, kaum
Muslimin kalah, akibat sebagian dari mereka terlalu bangga dengan jumlah
pasukan dan senjata, serta lupa kalau kemenangan datang dari Allah Ta’ala.
Orang-orang yang bangga dengan jumlah pasukan dan senjata ketika itu
orang-orang yang baru masuk Islam. Seorang dari mereka berkata, “Hari
ini kita tidak kalah oleh pasukan yang jumlah tentaranya sedikit.”
Akibat ujub seperti ialah seperti dijelaskan Al-Qur’an.
“Dan
(ingatlah) Perang Hunaian, yaitu di waktu kalian congkak karena
banyaknya jumlah kalian, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi
manfaat kepada kalian sedikit pun, dan bumi yang luas itu terasa sempit
oleh kalian, kemudian kalian lari ke belakang dengan bercerai-berai.” (At-Taubah: 25).
Akhi-ukhti, aktivis Islam, renungkan baik-baik firman Allah Ta’ala,
“Dan bumi yang luas itu terasa sempit oleh kalian, kemudian kalian lari ke belakang dengan bercerai-berai.” (At-Taubah: 25).
Saya
katakan, gerakan dakwah yang ingin menegakkan agama di atas bumi itu
harus lebih serius memberants kemungkaran di internal mereka, daripada
kemungkaran di eksternal mereka. Sebab, jika mereka sukses memperbaiki
kondisi internal mereka, mereka lebih sukses membenahi kondisi eksternal
mereka. Bahkan, saya tegaskan, mereka tidak sukses memperbaiki kondisi
eksternal sebelum mereka sukses membenahi kondisi internal mereka.
Sebelum
mengakhiri pembahasan tentang kemasiatan, saya ingin menggarisbawahi
masalah penting, yaitu kemaksiatan-kemaksiatan yang saya maksud ini
bukan hanya kemaksiatn-kemaksiatan yang terlihat, tapi mencakup
kemaksiatan-kemaksiatan batin, yang tidak terlihat. Kadang,
kemaksiatan-kemaksiatan batin, misalnya riya’, ujub,
dengki, ambisi jabatan, dan sombong itu lebih membahayakan, daripada
kemaksiatan-kemaksiatan yang terlihat. Sebab, sesuatu yang tidak
terlihat itu seperti kanker, yang menyebar secara cepat di tubuh dan
menghancurkannya tanpa sakit dan tanda-tanda yang bisa dirasakan orang
yang bersangkutan dan orang-orang yang ada di sekitarnya. Kecuali,
setelah beberapa waktu, di mana ketika itu, dokter sudah tidak dapat
berbuat apa-apa dan obat juga tidak berguna lagi. Bukankah kekalahan
kaum Muslimin di Perang Hunain disebabkan kemaksiatan yang tidak
terlihat, yaitu ujub? Biasanya, orang yang bukan pakar sulit mendeteksi penyakit-penyakit batin, apalagi yang bukan pakar!
Hendaklah gerakan dakwah mewaspadai seluruh kemaksiatan. Para qiyadah-nya
harus membersihkan hati mereka dan berusaha semaksimal mungkin
membersihkan hati kader-kader mereka, dengan segala sarana yang
disyariatkan Islam dan tulis di banyak buku. Mereka mesti tahu bahwa
tindakan prefentif lebih baik dari tindakan kuratif dan sedikit uang
untuk biaya tindakan kuratif dan sedikit uang untuk biaya tindakan
prefentif lebih baik daripada berjuta-juta uang untuk biaya kuratif.
Mereka juga harus tahu bahwa terapi dan tindakan prefentif paling
penting untuk mengatasi penyakit-penyakit batin ialah para tokoh dan
figur panutan di gerakan dakwah hendaknya paling taat kepada Allah Ta’ala,
hati dan organ tubuh mereka bersih dari segala syubhat, dosa-dosa
kecil, dan dosa-dosa besar, baik dosa-dosa yang terlihat maupun tang
tidak trelihat. Rakyat itu menurut perilaku penguasa mereka dan mengikuti pemimpin mereka, wallahu a’lam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar