Minggu, 25 Desember 2011

Tempat-tempat itu membuka semua memori masa lalu


Madiun, 25 Desember 2011
Subhanallah...hati ini selalu berpaut pada suatu kenangan yg indah, meski telah lama terlewati ato bahkan telah lama tidak terlintas di pikiran. Entah sy mau mengawali dari mana. Setiap kali ada kesempatan untuk menginjakkan kaki di tanah kelahiran selalu ada panggilan untuk bersilaturrahim ke tempat2 yg penuh kenangan. Hari ini, ditemani oleh beberapa saudara sy yg berkenan menemani perjalanan sy di kampung halaman, mereka adalah Mas Zen, Taufik, dan Adiarsa. Mungkin mereka tidak mengerti dan paham dg apa yg sy maksud. Air mata ini tak bisa tertahan lagi ketika sy melihat sebuah masjid yang terletak di Jalan Jawa No. 15 Madiun ini. Masjid yg ukurannya tidak terlalu luas. Sekitar 10 x 10 meter. Ada hijab yg membatasi antara jama'ah putra dan putri. Dengan ornamen yg sudah sedikit berbeda dengn yg pernah sy lihat pertama kali. Mungkin sekitar 6 tahun yang lalu.
Adzan magrib pun berkumandang. Segera ku ambil air wudlu dan mengikuti sholat berjama'ah. Muadzin dan para jama'ahnya pun sudah berbeda dari yg pernah sy lihat sebelumnya. Banyak yg tidak ku kenal.
Masjid at taubah...ya....masjid penuh dengan sejuta kenangan. Aku merindukan masa-masa itu. Masa dimana aku mulai berkenalan dengan dunia dakwah sekolah. Ada seseorang yg sangat telaten dan sabar dlm mengajakku. Memberikan undangan kecil yang terselip di kotak amal berwarna putih mungil utk sekedar mengikuti halaqah, tapi aku selalu mencari kesibukan untuk menghindari undangan itu. Tapi usaha dari kakak kelasku untuk mengajak adek2nya mengikuti halaqah sangat luar biasa, mereka begitu sabar. Aku bingung mau mengawali dari mana, air mata ini cukup membuat tanganku sulit untuk menitikan kalimat-kalimat penuh kenangan itu. Karena aku hanya bisa menangis disaat aku mulai menginjakkan kakiku di masjid itu. Aku teringat dengan semua kenangan yg ada pada waktu itu. Liqo pertama dg murobbi pertamaku yang berasal dari non alumni sma-ku terjadi di masjid ini. Aku merasa sedih ketika kucari photo2 saat ada agenda di masjid itu tapi tak satupun yang aku temukan dan akhirnya setelah kucari kudapatkan satu photo (meski sy tdk kenal siapa akhwat2 yg ada di photo itu). Suasana hati ini tidak bisa tergambar dan terlukiskan dengan kata2. Simpul ukhuwah yg sdh terbentuk kala itu sangat membekas di hati meski kami semua telah dipisahkan oleh tempat dan waktu. Tempat itu menjadi tempat yg sangat bersejarah bagiku. Kala itu minimal satu kali dalam sepekan aku pasti berada disana, bahkan hampir tiap hari.
Sekitar satu bulan yg lalu sy sempatkan untuk pulang ke madiun. Dan akupun menyempatkan diri untuk berkunjung ke masjid itu, tepatnya pada hari sabtu siang menjelang asar. Dengan segera ku parkir motorku di depan masjid yang berada di belakang sebuah optik kacamata milik seorang dokter spesialis mata yang merupakan pimpinan takmir masjid itu. Aku sangat senang dan ceria melihat adhek2 yg memakai seragam pramuka duduk membentuk halaqah. Aku sengaja menunggu di serambi masjid agar kedatanganku tdk mengganggu aktivitas halaqahnya. Ketika aazan asar berkumandang aku mulai memasuki masjid. Adhek2 dg sigap menyambut kedatanganku dan menyalamiku dg penuh keceriaan meski aku tidak mengenal mereka sepenuhnya, tapi sayang kal itu pandanganku hampa dan kosong, melihat ustadz yg mengisi halaqah mereka...loh..kok...mana murobbi yg dulu pernah sy transfer dari MR sy?dalam hati sy bertanya2. Aku baru tersadar bhw adhek2 sekarang sudah tidak dipegang oleh tarbiyah lagi....mereka telah diambil alih oleh harakah yang lain. Sedih hati ini melihatnya...itu tdk menjadi persoalan besar bagiku. Asal mereka bisa terjaga dan terbina serta msh berkontribusi dlm dunia dakwah sekolah.

Masjid Al Furqon SMAN 2 Madiun.
Untuk masjid yang satu ini juga meninggalkan kenangan dan memori yang luar biasa. Sebuah masjid sekolah dengan ukuran yg tidak terlalu luas. Lokasinya berada di bagian paling barat dari area sekolah. Bagian selatan langsung berbatasan dengan kantin sekolah (Kantinnya mbok Sri, he he). Di depannya ada tangga yang menuju ke lantai 2 dan diapit oleh 2 kelas. Bagian utara berbatasan dengan kelas XI IPA 5 dan Perpustakaan sedangkan yang unik adalah di bagian belakang langsung berbatasan dengan kelas XI IPS 1 yang dihubungkan oleh sebuah pintu, jadi kalo jama'ah membludak ruangan kelas itu berubah menjadi serambi masjid, he he).
Masih sangat teringat jelas kenangan di masjid itu. Ketika itu ada serangkaian acara MOS (Masa Orientasi Siswa), dan diantaranya adalah adanya kegiatan sholat berjamaah wajib bagi siswa baru. Seusai sholat ada sedikit taujih dari kakak2 panitia (anak rohis mungkin) kemudian dilanjtkan dengan games yang dilaksanakan di dalam masjid itu juga. Dengan senyuman dan keramahannya mereka memandangku seolah mereka sudah sangat dekat denganku. Sejak pertemuanku dengan kakak2 kelas itulah yang notabene mereka memiliki seabrek prestasi dari yang tingkat lokal sampai internasional membuatku makin membuatku jatuh cinta dg mereka. Subhanallah.....Tak banyak yg akan kuuraiakan disini. Aku hanya membuka kenangan itu untuk menghibur diriku sendiri. ya....karena tak banyak orang yg bisa kujadikan teman untuk berbagi cerita. Karena seseorang yg sebelumnya akan kujadikan saudaraku, tempat berbagi sepertinya tidak mau menerima kehadiranku. Karenanya aku ingat dengan MR pertamaku (kini menjadi orang yg luar biasa), kerenanya aku teringat masa laluku. Semoga kenangan2 ini akan menjadi temanku dalam kesendirian.

Pasca aku mengunjungi masjid At Taubah. Ku lanjutkan perjalananku untuk menemui seseorang yang pernah singgah di halaqahku dl meski tdk lama. Karena posisinya kala itu sebagai transisi dari satu murobbi ke murobbi yang lain. Alhamdulillah meski ngobrol tidak lama. Pertemuan yg singkat itu sangat indah dan cukup menghibur hati yang lara. Terima kasih ya Allah...

Sabtu, 24 Desember 2011

AMANAH dan DAKWAH, Untukmu yang akan dan sedang mengemban sebuah amanah.

InsyaAllah uraian ini akan menyadarkan kita arti sebuah amanah...ya..amanah. Ketika kita bisa memahami arti dari sebuah amanah maka tak ada lagi kata jenuh dan menyerah dalam mengemban sebuah amanah..

Makna Da’wah adalah menyeru manusia kepada Al-Haq, menyeru manusia kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Di dalam da’wah, ada nilai-nilai yang harus diemban, yaitu keikhlasan, keteladanan, lemah lembut dalam menyuruh dan melarang, mengerti apa yang harus dilakukan dan adil terhadap apa yang harus dilarang. Da’wah dilakukan hanya karena Allah dan sang pengemban da’wah tidak meminta imbalan kepada siapapun kecuali imbalan dari Allah SWT. Tanpa orientasi “Allahu Ghoyatuna” ini, maka rusaklah da’wah yang diserukan, sia-sia sajalah apa yang sang da’i usahakan.

Di dalam organisasi da’wah, memang ada konsep fase-fase Da’wah Fardiyah untuk membentuk seorang kader. Fase yang pertama adalah tsiqoh, fase kedua menyatu dengan da’wah, dan ketiga adalah bergerak bersama da’wah. Namun yang sering terjadi adalah lompatan fase akibat mengejar target jumlah kader, yaitu dari fase pertama melompat ke fase ketiga. Di mana saat fase ketiga ini, seseorang diajak bergerak bersama dalam da’wah, dalam kepanitiaan atau kepengurusan misalnya. Akhirnya timbullah gerak tanpa ruh, gerak tanpa diiringi pemahaman mendalam tentang esensi da’wah. Hingga muncullah kader-kader yang menganggap amanah kepemimpinan sebagai wujud keistimewaan, amanah sebagai wujud karir.

Ketika seseorang bergabung dalam organisasi da’wah maka seharusnya orientasinya bukanlah duniawi, tetapi ukhrawi. Ada cita-cita bersama dalam jamaah. Sebuah organisasi memang menjadi tempat untuk menggali potensi diri. Di dalam organisasi, kita dapat berlatih dinamika kelompok. Di dalam organisasi, kita sparring dengan dunia kampus. Namun organisasi da’wah berbeda dengan organisasi lain karena organisasi da’wah menggelar acara dengan tujuan berda’wah, karena Allah. Dan ketika seseorang yang belum memiliki pemahaman yang benar tentang da’wah diserahi amanah sebagai pemimpin misalnya, yang terjadi adalah terselenggaranya acara tanpa diiringi ruh da’wah, yang terjadi adalah kader-kader yang berorientasi hasil dan bukan proses. “Ane merasa menjadi sapi perah di organisasi ini…” Demikian keluhan seorang al-akh yang notabene seorang kader senior yang diungkapkan lewat sebuah forum tertutup.
 

Hakekat Amanah
Berikut ini adalah hal-hal yang harus dipahami ketika seseorang memiliki amanah: 
1. Amanah = Tanggung Jawab.
Di dalam Islam, sebuah amanah kelak harus dipertanggungjawabkan di hadapanNya. Ketika Allah menawarkan amanah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, tak ada yang mau menerimanya kecuali manusia. Dan adalah manusia itu sangat zalim dan bodoh. “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” (QS.34:71)
2. Jangan Merasa Berbeda
Seorang al-ukh yang seniot menegur juniornya yang tengah sibuk membuat mading masjid. Ia berkata,“Dek, tidak seharusnya kamu mengerjakan ini, teman-teman yang lain kan bisa melakukannya.” Sang senior beranggapan bahwa hal remeh temeh tidak seharusnya dilakukan oleh sang junior yang menjabat sebagai ketua keputrian rohis. Sang junior menatap seniornya, terdiam sebentar dan kembali melanjutkan pekerjaannya. Ia sangat tidak setuju dengan pendapat seniornya karena ia teringat Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam saat memerintahkan untuk menyembelih seekor domba. Seseorang berkata, "Akulah yang akan menyembelihnya", yang lain berkata "Akulah yang akan mengulitinya", Lalu Beliau bersabda, "Akulah yang akan mengumpulkan kayu bakarnya." Mereka berkata, "Kami akan mencukupkan bagi engkau." Beliau bersabda, "Aku sudah tahu kalian akan mencukupkan bagiku. Tapi aku tidak suka berbeda dari kalian. Sesungguhnya Allah tidak menyukai hambaNya yang berbeda di tengah-tengah rekannya.”
 
3. Besarnya Amanah Bukanlah Indikasi ‘Lebih Baik’
Orang-orang terdahulu sangat memahami hakikat amanah sehingga mereka tidak memandangnya sebagai kelebihan, justru sebagai sebuah beban. Sebagaimana pidato Umar bin Abdul Aziz saat naik ke podium negara untuk pertama kalinya,”Ketahuilah bahwa aku bukanlah orang yang terbaik di antara kamu. Akan tetapi, aku hanyalah seorang laki-laki seperti kamu semua. Namun Allah telah menjadikan aku sebagai orang yang paling berat bebannya di antara kamu."
 
4. Membumi Bersama Anggota
Pemimpin dalam Islam, bukan sekedar memerintah tetapi juga terjun langsung bersama anggotanya. Ini bukan berarti sang pemimpin tidak memiliki kafaah pendelegasian tugas, namun karena selayaknya seorang pemimpin memberikan teladan dan melayani. Hal ini sebagaimana Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam tunjukkan keteladanan itu ketika Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam membangun masjid Nabawi di Madinah bersama para sahabatnya. Beliau tidak hanya menyuruh dan mengatur atau tunjuk sana tunjuk sini, tapi beliau turun langsung mengerjakan hal-hal yang bersifat teknis sekalipun. Beliau membawa batu bata dari tempatnya ke lokasi pembangunan.
 
5. Berendah Hatilah
Sesungguhnya kita harus senantiasa berendah hati dan berlemah lembut terhadap orang-orang yang beriman. Memiliki jabatan bukan berarti angkuh di atas singgasana dan hanya memberi instruksi. Lihatlah Umar bin Abdul Aziz, seorang khalifah yang datang ke sebuah pasar untuk mengetahui langsung keadaan pasar, maka ia datang sendirian dengan penampilan biasa, bahkan sangat sederhana sehingga ada yang menduga kalau ia seorang kuli panggul lalu orang itupun menyuruhnya untuk membawakan barang yang tak mampu dibawanya. Umar membawakan barang orang itu dengan maksud menolongnya, bukan untuk mendapatkan upah. Namun ditengah jalan, ada orang memanggilnya dengan panggilan ‘Amirul Mu’minin’ sehingga pemilik barang yang tidak begitu memperhatikannya menjadi memperhatikan siapa orang yang telah disuruhnya membawa barangnya. Setelah ia tahu bahwa yang disuruhnya adalah seorang khalifah, iapun meminta maaf, namun Umar merasa hal itu bukanlah suatu kesalahan.

6. Jangan Karena Ambisi

Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam berkata kepada Abdurrahman bin Samurah,“Janganlah engkau menuntut suatu jabatan. Sesungguhnya jika diberi karena ambisimu maka kamu akan menanggung seluruh bebannya. Tetapi jika ditugaskan tanpa ambisimu maka kamu akan ditolong mengatasinya.” (HR.Bukhari dan Muslim)

Namun bukan berarti pula kita tidak boleh menerima amanah. Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam bersabda,“Barangsiapa yang diserahi kekuasaan urusan manusia lalu menghindar (mengelak) melayani kaum lemah dan orang-orang yang membutuhkannya, maka Allah tidak akan mengindahkannya pada hari kiamat.” (HR. Ahmad).

Atau seperti ucapan Nabi Yusuf di Surat Yusuf ayat 55,”Berkata Yusuf, 'Jadikankah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan.” (QS.12:55)

 Subhanallah!!! Ana tdk tahu apa yg harus ana perbuat. Apakah ana harus menangis, mengeluh, menyendiri, ya....mungkin akhir2 ni hari2 ana selalu diliputi rasa gundah dan gelisah. Teringat dengan telepon dari mas'ul Janur tahun 2011 yg menghubungi ana ketika ana masih KKN diBojonegoro, di pagi hari yang masih buta. Beliau melamar ana untuk memegang sebuah amanah. Ana hanya bisa diam seribu bahasa, karena saat itu juga ana belum bisa memberikan jawaban atas amanah yang ditawarkan. Tak selang lama kemudian, hanya sekitar 2 hari setelah mas'ul Janur menghubungi ana, anapun dihubungi ikhwah UGM, dalam wktu yang sama juga, di pagi hari yang masih petang. Akhy...berdasarkan keputusan syuro antum mendapat kepercayaan untuk memegang amanah sebagai ........................ . (Sebuah amanah yg tidak ringan bagi ana). Akhir pekan ni tolong ke Jogja ya...... akhirnya hati dan kaki inipun harus melangkah ke kota pelajar meski di tengah kesibukan KKN. Setelah pasca MUBES JMV ana mengira amanah ana sudah mulai berkurang shg bisa fokus dlm akademik dan segera menuntaskan gelar sarjana dan memasuki jenjang profesi. Akan tetapi tak lama setelah ana lepas amanah sbg mas'ul ldf. Sebuah tawaran kembali datang. Awalanya ana kira hanya sebuah gurauan dan disampaikan di tengah malam, tak lama kemudia setelah itu ana dikejutkan dengan datangnya surat yang ikut terlampir dalam kado spesial milladku dari adek2, yg pada intinya menyampaikan amanah yg akan dipercayakan ke ana. Dan bebarapa hari kemudian, tepatnya adalah disaat ana menulis uraian ini (tepatnya pukul 20:50:05), Ada sms yang masuk ke inbox ana. Akh antm siap ya jadi .............., jazakallah. Subhanallah, sungguh akhir2 ni adalah hari yang penuh ujian bagi ana. Ketika ada sebuah amanah besar yg harus ana emban sedangkan amanah yg lain belum terselesaikan dan masih harus tetap berjalan. Ya Allah kuatkan hati ini, semoga tetap ikhlas dan sabar. Di tengah carut marutnya pikiran, karena banyak hal yg dipikirkan terkdang membuat hati dan fikiran jadi tidak jernih, ana mulai merasakan fisikku pun merasakan keletihan. Hampir tiap hari air mata ini tak pernah behenti keluar. (STOP Mengeluh). Ya Allah kuatkan hambaMu ini dalam mengemban amanah ini.

Organisasi da’wah tentu memiliki struktur dan itu hanya untuk memudahkan kinerja, maka hendaknya kita tidak memandang istimewa seseorang dari jabatannya, tetapi dari ketaqwaannya.

Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam bersabda,“Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak memandang postur tubuhmu dan tidak pula pada kedudukanmu maupun harta kekayaanmu, tetapi Allah memandang pada hatimu. Barangsiapa memiliki hati yang shaleh maka Allah menyukainya. Bani Adam yang paling dicintai Allah ialah yang paling bertaqwa.” (HR. Muslim).

Setelah memahami apa dan bagaimana amanah, maka tidak selayaknya seorang kader memandang mulia orang yang besar amanahnya dan memandang rendah dirinya hanya karena amanahnya tidak besar. Tidak selayaknya pula seorang aktivis merangkai jenjang karir berupa karir da’wah dan menghitung-hitung untung rugi, karena sesungguhnya Allah tidak menilai besar kecilnya amanah, Allah tidak menilai tinggi rendahnya jabatan, tetapi Allah menilai kesungguhan dan keikhlasan kita. Biarlah Allah saja yang membalas da’wah kita ini, dan katakanlah sebagaimana para nabi telah berkata,“Sesungguhnya aku tidak meminta upah kepadamu atas seruanku ini, upahku hanyalah dari Allah, Tuhan Semesta Alam.” Wallahu’alam bishowab.
HAMASAH !!!
Jazakumulloh khairan katsiran.

KEMAKSIATAN ANDA BERPENGARUH PADA GERAKAN DAKWAH

Kadang, petaka kemaksiatan seorang aktivis Islamatau sejumlah aktivis melebar mengenai gerakan dakwah, atau menimpakan kekalahan kepadanya, atau menyebabkannya mendapatkan ujian berat. Apalagi, jika kemaksiatan itu tergolong dosa besar, atau dikerjakan level qiyadah (pemimpin), atau dilakukan figur panutan, atau tidak dicegah secara maksimal oleh gerakan dakwah, atau taubat darinya bukan taubat nashuhah. Mahabenar Allah ketika berfirman,
“Dan peliharalah diri kalian dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang dzalim saja di antara kalian.” (Al-Anfal: 25)
Jika kita kaji Perang Uhud, kita temukan sebab kekalahan kaum Muslimin di dalamnya ialah indispliner sebagian pasukan pemanah, yang jumlah mereka tidak mencapai 4%, dari jumlah total pasukan kaum Muslimin ketika itu. Apa akibatnya? Tujuh puluh sahabat terbunuh, perut mereka dibelah, hidung dan telinga mereka dipotong-potong, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam terluka, wajah beliau terluka, dan gigi antara gigi seri dengan gigi taring beliau tercabut. Kendati demikian, Allah Ta’ala memaafkan mereka, seperti dijelaskan Al-Qur’an,
“Dan sesunggunya Allah memaafkan kalian.” (Ali-Imran: 152).
Seseorang berkata kepada Al-Hasan Al-Bashri, “Bagaimana Allah memaafkan para pemanah, padahal tujuh puluh sahabat terbunuh?” Al-Hasan Al-Bashri menjawab, “Kalau sekiranya Allah tidak memaafkan mereka, tentu Dia menghabisi mereka semua.”
Itu semua akibat kemaksiatan, seperti dijelaskan Allah Ta’ala,
“Dan mengapa ketika kalian ditimpa musibah (di Perang Uhud), padahal kalian telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuh kalian (di Perang Badar) kalian berkata, ‘Dari mana datangnya (kekalahan) ini? ‘katakan, ‘Itu dari diri kalian sendiri”.” (Ali-Imran: 165).
Allah Ta’ala berfirman,
“Pada saat kalian lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepada kalian apa yang kalian sukai.” (Ali-Imran: 152).
Masalah ini juga terlihat dengan jelas di Perang Hunain. Di awal perang, kaum Muslimin kalah, akibat sebagian dari mereka terlalu bangga dengan jumlah pasukan dan senjata, serta lupa kalau kemenangan datang dari Allah Ta’ala. Orang-orang yang bangga dengan jumlah pasukan dan senjata ketika itu orang-orang yang baru masuk Islam. Seorang dari mereka berkata, “Hari ini kita tidak kalah oleh pasukan yang jumlah tentaranya sedikit.” Akibat ujub seperti ialah seperti dijelaskan Al-Qur’an.
“Dan (ingatlah) Perang Hunaian, yaitu di waktu kalian congkak karena banyaknya jumlah kalian, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepada kalian sedikit pun, dan bumi yang luas itu terasa sempit oleh kalian, kemudian kalian lari ke belakang dengan bercerai-berai.” (At-Taubah: 25).
Akhi-ukhti, aktivis Islam, renungkan baik-baik firman Allah Ta’ala,
“Dan bumi yang luas itu terasa sempit oleh kalian, kemudian kalian lari ke belakang dengan bercerai-berai.” (At-Taubah: 25).
Saya katakan, gerakan dakwah yang ingin menegakkan agama di atas bumi itu harus lebih serius memberants kemungkaran di internal mereka, daripada kemungkaran di eksternal mereka. Sebab, jika mereka sukses memperbaiki kondisi internal mereka, mereka lebih sukses membenahi kondisi eksternal mereka. Bahkan, saya tegaskan, mereka tidak sukses memperbaiki kondisi eksternal sebelum mereka sukses membenahi kondisi internal mereka.
Sebelum mengakhiri pembahasan tentang kemasiatan, saya ingin menggarisbawahi masalah penting, yaitu kemaksiatan-kemaksiatan yang saya maksud ini bukan hanya kemaksiatn-kemaksiatan yang terlihat, tapi mencakup kemaksiatan-kemaksiatan batin, yang tidak terlihat. Kadang, kemaksiatan-kemaksiatan batin, misalnya riya’, ujub, dengki, ambisi jabatan, dan sombong itu lebih membahayakan, daripada kemaksiatan-kemaksiatan yang terlihat. Sebab, sesuatu yang tidak terlihat itu seperti kanker, yang menyebar secara cepat di tubuh dan menghancurkannya tanpa sakit dan tanda-tanda yang bisa dirasakan orang yang bersangkutan dan orang-orang yang ada di sekitarnya. Kecuali, setelah beberapa waktu, di mana ketika itu, dokter sudah tidak dapat berbuat apa-apa dan obat juga tidak berguna lagi. Bukankah kekalahan kaum Muslimin di Perang Hunain disebabkan kemaksiatan yang tidak terlihat, yaitu ujub? Biasanya, orang yang bukan pakar sulit mendeteksi penyakit-penyakit batin, apalagi yang bukan pakar!
Hendaklah gerakan dakwah mewaspadai seluruh kemaksiatan. Para qiyadah-nya harus membersihkan hati mereka dan berusaha semaksimal mungkin membersihkan hati kader-kader mereka, dengan segala sarana yang disyariatkan Islam dan tulis di banyak buku. Mereka mesti tahu bahwa tindakan prefentif lebih baik dari tindakan kuratif dan sedikit uang untuk biaya tindakan kuratif dan sedikit uang untuk biaya tindakan prefentif lebih baik daripada berjuta-juta uang untuk biaya kuratif. Mereka juga harus tahu bahwa terapi dan tindakan prefentif paling penting untuk mengatasi penyakit-penyakit batin ialah para tokoh dan figur panutan di gerakan dakwah hendaknya paling taat kepada Allah Ta’ala, hati dan organ tubuh mereka bersih dari segala syubhat, dosa-dosa kecil, dan dosa-dosa besar, baik dosa-dosa yang terlihat maupun tang tidak trelihat. Rakyat itu menurut perilaku penguasa mereka dan mengikuti pemimpin mereka, wallahu a’lam.