Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Melirik Pemimpin Unair masa depan........
Hidup Mahasiswa!
....itulah semboyan atau yel2 yg sering diteriakkan oleh mahasiswa Indonesia untuk memberikan motivasi dan menguatkan peran serta esksistensinya sebagi seorang mahasiswa....
Mari kita melihat pada diri kita masing2...apakah sosok pemimpin itu ada pada diri kita?..pernahkah kita merasa bahwa sosok pemimpin itu ada pada diri kita....
Entah kenapa saya tiba-tiba teringat dengan blog saya ini yang sudah 1 tahun lebih tdk sy kelola. Memang tak semua orang suka dan tertarik dengan dunia maya tp apa salahnya jika blog ini sedikit bisa memberikan manfaat kepada siapapun yang membacanya meski cuma SATU orang. saya rasa itu akan lebih berharga, karena dari satu orang yg membaca harapannya adalah akan ada suatu do'a untuk kebaikan masyarakat kampus ke depannya........
Pemimpin selalu identik dengan kekuasaan. Dalam perspektif Islam, kekuasaan memang bukan hanya sebagai suatu berkah yang harus disyukuri, namun juga amanah yang harus diemban dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Sebagai amanah ia harus dijaga, dipelihara dan diberikan kepada yang berhak menerimanya. Allah telah berfirman: “Katakanlah : Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki, dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”(QS. Ali Imran : 26)
Allah adalah Dzat pemberi amanah kepada hamba-hamba-Nya untuk memimpin umat manusia, mengelola kekayaan alam untuk kemaslahatan (kebaikan) seluruh makhluk ciptaan-Nya. Sebagai sesuatu yang dititipkan, suatu saat Allah pasti akan mencabut amanah yang telah diberikan-Nya tadi, dan akan meminta pertanggungjawaban atasnya. “Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin pasti akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya” Seorang individu adalah pemimpin bagi dirinya sendiri, dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinan terhadap dirinya sendiri. Suami adalah pemimpin bagi diri sendiri dan keluarganya, maka ia akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Istri adalah pemimpin rumah tangga suaminya, maka ia akan dimintai pertanggungjawaban juga. Pelayan adalah pemimpin atas harta tuannya, maka iapun akan dimintai pertanggungjawaban atas pengelolaannya. Dan pemimpin masyarakat adalah pemimpin bagi diri sendiri, keluarga, serta masyarakatnya, oleh karenanya akan dimintai pertanggungjawaban terhadap kepemimipinannya tersebut.
Bahkan kita pada usia remaja juga pemimpin, anak kecil juga pemimpin. Jadi pemimpin tidak harus menguasai sebuah negeri, memiliki wilayah, rakyat, massa ataupun kerajaan. Tapi seorang yang sangat lemah atau tidak berdaya pun juga pemimpin, yaitu memimpin sebuah Kerajaan dia dan menjadi Raja atas dirinya sendiri, yaitu mengalahkan hawa nafsunya.
Pada umumnya orang melihat pemimpin adalah sebuah kedudukan atau posisi semata. Akibatnya banyak orang mengejar-ngejar menjadi seorang pemimpin dengan menghalalkan segala cara dalam mencapai tujuan. Mulai dari membeli kedudukan dengan uang, menjilat atasan, saling menyikut, menginjak dan menjatuhkan, atau cara-cara lain demi mengejar kepemimpinan. Akibatnya hal-hal tersebut melahirkan pemimpin yang tidak dicintai, disegani, tidak ditaati bahkan dibenci. Pemimpin ini akan menggunakan kekuasaannya untuk mengarahkan, memperalat atau menguasai orang lain supaya orang lain mengikutinya. Tentu kita masih ingat sejarah Fir'aun, Adolf Hittler, atau Kaisar Hirohito, mereka adalah penguasa dzolim yang menindas rakyat, bertindak sangat keji, bahkan mengaku sebagai Tuhan. Akibatnya Kerajaan yang mereka agung-agungkan hancur akibat daya perlawanan yang sangat dahsyat dari tekanan yang dibuatnya sendiri. Kisah ini membuktikan bahwa pemimpin yang berkuasa dengan penuh kedzoliman, kekejaman, dan tekanan kepada yang dipimpinnya akan hancur. Gaya kepemimpinan yang melanggar garis Allah hanyalah menumbuhkan anarkisme. Sebagaimana disebutkan oleh Thomas Hobber, manusia akan menjadi pemangsa manusia yang lainnya.
Rakyat dalam sebuah pemerintahan berhak mempertanyakan kekayaan penguasa. Penguasa yang dicurigai pun berkewajiban rela hati menjelaskan secara detail dan jelas terutama untuk mencegah muncul dan berkembangnya kecurigaan. Apapun argumentasinya, dugaan-dugaan negatif (su’udzon) dapat menimbulkan fitnah, yang pada gilirannya menimbulkan krisis kepercayaan, serta pada ujungnya melahirkan krisis legitimasi. Rakyat dari level mana pun bahkan wajib mengungkapkan isi hati baik berupa dugaan atau apalagi aspirasi kepentingannya. Setelah mereka mendapat keterangan dan atau dikabulkan tentu saja sesuai kemampuan negara, maka rakyat perlu mengembangkan sikap taat bin patuh. Singkat kata, dalam konsepsi ini yang dikembangkan dalam sebuah kehidupan bermasyarakat bernegara adalah munculnya sikap oposisi loyal, kritis tetapi tak merusak.
Oleh sebab itu, semoga saja kita menjadi pemimpin yang baik bagi orang lain dan bagi kita sendiri. Dan seorang pemimpin juga perlu melakukan inspeksi langsung, bukan pasrah bongkokan mengandalkan laporan aparat bawahannya. Inspeksi mendadak (sidak) dapat secara ampuh memberi informasi murni tak distortif apalagi spekulatif. Sidak membantu pemimpin untuk melihat realitas kehidupan rakyat, informasi murni dari rakyat, bukan lagi bersifat basa-basi buatan aparat. Dengan cara yang sama, pemimpin dapat segera mengoreksi langsung kebijakannya, yang ternyata keliru bila diterapkan dalam masyarakat. Seorang pemimpin selayaknya tak marah (bahkan berbahagia) atas kritik rakyat, apapun derajat dan posisinya terhadap diri dan kepemimpinanya, meski dilakukan langsung di hadapannya. Kritik bagi seorang faqih (paham betul) agama, justru dijadikan faktor pengingat agar dapat tampil secara lebih baik dan sempurna. Tak berlebihan jika agama sampai mengingatkan, bahwa orang yang selalu memuji kita hakikatnya menjadi musuh yang paling nyata, karena ia dapat menyebabkan kita menjadi terlena. Sedangkan, musuh yang terus mencari-cari kesalahan kita, hakekatnya malah menjadi pembantu setia, sebab ia selalu “mengingatkan” tentang kesalahan, kelemahan kita, bahkan dalam bentuk yang sekecil-kecilnya.
Dalam menerapkan gaya kepemimpinan, kita dapat mengambil suri tauladan dari Baginda Rasulullah Muhammad SAW. Hal ini sesuai dengan Firman Allah : “Sungguh pada diri Rasulullah kamu dapatkan suri teladan yang indah bagi orang-orang yang mengharap (rahmat Allah) dan (keselamatan) Hari Akhir, serta banyak mengingat Allah.”
Michael Hart (tahun 1978) membuat analisa tulisan, untuk membuat daftar atau ranking dari orang-orang yang paling berpengaruh di dunia. Dari hasil analisanya dia menjatuhkan pilihan usulan pertama pada Nabi Muhammad SAW. Menurut Ary Ginanjar Agustian, Nabi Muhammad adalah pemimpin abadi meskipun sudah meninggal tapi pengaruhnya sangat terasa hingga detik ini, tak lekang ditelan zaman. Menerima gaya kepemimpinannya sangat sesuai dengan hati nurani dan bisa diterima akal sehat dan logika. Begitu kuatnya pengaruh dan ajaran Nabi Muhammad sehingga para sahabat-sahabatnya pun menerapkan gaya kepemimpinan yang Beliau contohkan.
Saudaraku ingatkah kalian siroh (cerita) tentang pemindahan Hajar Aswad ke tempat nya semula. Ketika itu hampir timbul perselisihan antara kaum dalam. Quraisy yang merasa berhak meletakkan Hajar Aswad ke tempat semula. Kemudian Nabi Muhammad memecahkan persoalan secara rasional dan adil bukan dengan perang. Beliau meminta sorban kepada mereka lantas menghamparkan ke tanah, yang kemudian meletakan Hajar Aswad tepat di tengah, lalu berseru, “Hendaklah masing-masing dari kalian, wakil dari setiap kaum memegang ujung dari sorban ini, lantas angkatlah secara bersama-sama.”Setelah atu itu diangkat dan dibawa mendekati tempatnya. Muhammad mengangkatnya dan meletakan di tempatnya. Subhanallah. Pemecahan yang bijaksana ini memuaskan setiap kaum berselisih. Masalah yang nyaris menumpahkan darah, akhirnya berhasil diselesaikan dengan memuasakan semua pihak. Muhammad memberi kesempatan bersama untuk mengangkatnya, dan bukan secara egois diangkat oleh Muhammad sendiri. Dialah Al-Amin, orang luhur yang luput dari sifat-sifat puas diri, egois, untuk kepentingan diri sendiri.
Secara simbolis bahwa sebagai pemimpin hendaknya mengakui eksistensi dan kesederajatan setiap kelompok dalam masyarakat secara adil. Kendati Muhammad telah menjadi figur terpilih, dia tak lantas bersikap adigang-adigung (bersikap sewenang-wenang), menerapkan aji-aji mumpung, menerapkan kepentingan pribadi. Buktinya, Beliau adalah seorang pemimpin yang sangat dihormati, tapi beliau tidur pun beralaskan tikar dan rumah yang sangat sederhana. Jika Muhammad mau, ia akan menyuruh rakyatnya membangunkan sebuah istana yang sangat megah serta tidur di atas kasur dan bantal empuk.Tapi beliau tidak melakukannya, mengapa? Karena Nabi Muhammad bukan tipe “pemimpin” yang mementingkan diri sendiri.
Dari siroh (kisah) tersebut kita bisa mengambil ibrohnya (hikmahnya) dan menyimpulkan bahwa pemimpin yang baik itu ialah yang:
A. Berakhlaq
B. Adil dan bijaksana
C. Peduli
D. Jujur dan dapat dipercaya
E. Berani menanggung resiko
F. Rendah hati
G. Mampu dan cerdas
H. Tidak mudah putus asa
Tak lama lagi unair khusunya FKH akan melaksanakan pesta demokrasi atau yang biasa dikenal dengan PEMIRA. Teman2 pastinya sudah tak asing lagi mendengar kata pemira, kecuali bagi adek2 mahasiswa baru...mungkin pemira merupakan hal pertama yang baru mereka kenal. Oleh karena itu, bagi semua civitas kampus termasuk mahasiswa baru harus bisa menggunakan hak pilihnya dengan bijak dan tepat. Jangansampai ada suara golput. Bagi yang golput sama halnya seseorang yg tidak punya pendirian dan termasuk orang yang tidak peduli dengan kondisi lingkungannya....apalagi adek2 angkatan 2010 jangan sampai menjadi generasi yang hanya ikut2tan, memilih tapi tdk tahu siapa yang dipilih ataupun memilih karena tertarik dengan iming2 ataupun karena da hal lain yang tidak didasarkan pada hati nurani (dengarkan HATI NURANIMU, nurani selalu mengajak kepada kebaikan, kata Ary Ginanjar)
Nah kembali ke pokok bahasan. Masih bingungkah menentukan pemimpin di FKH kelak?mungkin ini hanya sekedar saran dari saya, yaitu :
Pilihlah pemimpin yang seiman dan berakhlaq, serta pilihlah pemimpin sejati yang mampu membangkitkan kesadaran orang-orang yang dipimpinnya serta adil. Minimal adalah pemimpin yang memenuhi criteria berikut (JUJUR, TANGGUNGJAWAB, VISIONER, DISIPLIN, KERJASAMA, ADIL, PEDULI), kayak 7 Budi Utama di ESQ aja.
Marilah kita bangun dengan kekuatan Allah yang diembankan kepada kita, sebab dengan kekuatan ini kita punya sandaran yang teguh, kokoh, dan Maha Kuat, yaitu Allah SWT. Laa Hawla Wa Laa Quwwata Illa Billah. Kekuatan untuk membangun bangsa ada pada kekuatan yang dititipkan Allah kepada kita. Untuk itu, setiap ada kesulitan sekecil apapun, sebesar apapun akan ringan jika dikembalikan kepada-Nya.
Coba bayangkan, Ini akan dahsyat sekali. Kalau jajaran pimpinan di kampus ini bersama-sama dengan civitas, duduk bersimpuh bersama, sujud bersama-sama, memohon pertolongan Allah. Dengan begitu, mudah-mudahan kita akan dibimbing-Nya dan tahu bagaimana mendayagunakan amanah yang ada di negeri ini. Semoga kita dapat membangun kebersamaan yang menumbuhkan kekuatan Ruhiyah tersebut. Subhanallah, itulah akhlaq seorang pemimpin yang dari tangannya suci dari menjarah harta yang bukan haknya. Mungkinkah sikap ini mampu diteladani para pemimpin di kampus kita.? SEMOGA.Wallahu A'lam... semoga kelak akan terpilih pemimpin yang amanah dan bertanggung jawab, serta dapat membawa FKH UNAIR yang madani…. AMIN ya Robbal ‘alamin….
Afwan jiddan apabila ada salah kata atau ada hal2 yang menyinggung. Apabila ada kesalahan itu datangnya dari saya sendiri dan bila ada kebenaran itu hanya milik Allah Yang Maha Benar….
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar