Cinta adalah ukhuwah. Tiada ukhuwah yang dilandasi tanpa cinta. Ukhuwah mengantarkan seseorang pada suatu tingkat dimana gejolak hati jadi mereda. Hanya ketenangan dalam qalbu yang terasa. Semua terasa indah dan bahagia. Tak ada lagi yang namanya pertikaian, perselisihan, dan perdebatan. Sungguh hanya nikmat yang bisa dirasa.
Ikhwah, coba bayangkan seandainya sesama aktivis dakwah kampus bisa merajut dan menguatkan simpul ukhuwah diantara mereka pastinya amanah dakwah ini tidak lagi terasa sebagai beban yang memberatkan, semuanya terasa begitu indah dan ringan. Meski sakit hati ini merasakan cacian dan makian orang. Meski raga ini kelelahan dan keletihan menanggung rutinitas kerja dakwah yang padat. Semuanya akan berlalu begitu saja dan tergantikan dengan kenikmatan iman. Karena kekuatan ukhuwah tergantung pada kekuatan iman. Dimana iman kita mulai goyah disaat itu juga ukhuwah akan terjangkit virus yang membahayakan. Dan jika virus-virus ukhuwah ini terus menyerang keimanan seseorang maka hati ini tiada lagi ada rasa kepekaan.
Ikhwah, pernahkah kita mendo'akan saudara kita disetiap do'a yang kita lantunkan. Pernahkan kita memohon agar saudara kita diberi kekuatan dan kesabaran dalam menjalankan amanah. Pernahkah kita meminta agar ukhuwah kita senantiasa terjaga hingga kita dipertemukan ke syurga. Pernahkah kita mendo'akan kebaikan untuk saudara seperjuangan kita. Kalau hal-hal seperti ini saja kita belum pernah melakukannya. Lalu bagaimana hati kita bisa terikat?
Ikhwah, seringkali kita mengabaikan arti penting dari ukhuwah. Terkadang kita hanya menganggapnya sebagai kebiasaan akhlak seorang muslim terhadap muslim lainnya, sehingga kita mengabaikan makna penting dan nilai-nilai mulia yang terkandung di dalamnya. Kalau boleh saya berpendapat, bisa jadi impian-impian dan cita-cita suatu jama'ah dakwah jauh dari realisasi karena kita melupakan nilai-nilai dasar dari ukhuwah, kita masih meremehkan kekuatan dari ukhuwah. Bahkan mungkin terkadang kita sudah jenuh dan bosan dengan materi kajian yang bertemakan ukhuwah, karena terkadang dalam diri kita muncul kesombongan yang menganggap bahwa materi itu sudah jadi konsumsi sehari-hari dan tak perlu dibahas.
Mari coba kita merenung dan bermuhasabah. Sudah sejauh manakah hubungan ukhuwah kita dengan saudara-saudara kita, dengan teman2 dan sahabat kita. Ikhwah, Allah sangat mencintai ukhuwah, terbukti Allah menurunkan banyak ayat yang berkaitan denngan ukhuwah. Dianntaranya adalah sebagia berikut :
Dalam QS. Al Hujurat : 10
"Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara".
QS. Al Hujurat : 11-12
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (kerana) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok). Dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain, (kerana) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olok) lebih baik dari wanita-wanita (yang mengolok-olok). Dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelargelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk setelah iman. Dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim. Hai orangorang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang" (al-Hujurat [49]: 11-12).
Masih banyak lagi ayat-ayat yang menerangkan berkaitan dengan tema ukhuwah. Ikhwah, ukhuwah yang terjalin diantar kaum mukmin merupakan nikmat yang sangat luar biasa. Dalam firman-Nya..
"Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu kerana nikmat itu, sebagai orang-orang yang bersaudara" (Ali 'Imran [3]: 103).
Ukhuwah yang terjalian diantara orang-orang mukmin adalah berlandaskan atas iman dan aqidah sehingga ikatan yang terjalinpun pastinya sangat kuat dan istimewa dibandingkan dengan ikatan-ikatan lainnya. Bahkan bisa jadi hubungan persaudaraan yang dilandaskan atas iman dan aqidah bisa mengalahkan hubungan persaudaraan kandung yang tidak dilandasi akan iman dan aqidah. Sehingga dengan persamaan iman dan aqidah ini dapat mengantarkan kita pada suatu pandangan hidup dan tujuan yang sama.
Bila dihadapkan dengan realita yang terjadi di lapangan, khususnya dunia dakwah kampus. Mungkin memang benar jika kualitas dari ukhuwah kita masih dipertanyakan. Apakah selama ini kita benar-benar sudah merasakan indahnya ukhuwah itu?kalaupun sudah mengapa masih ada ashobiah/fanatisme dalam golongan-golongan?kenapa kita masih menyimpan berbagai prasangka kepada saudara kita yang lain?terkadang kita menggunakan dalih berfastabiqul khoirat, padahal kita merasakan sendiri seolah-olah kita saling bersaing satu sama lain, yang pada akhirnya istilah perebutan kaderpun tak bisa dihindari. Ikhwah, kalau kita merasa ukhuwah ini sudah kuat, kenapa masih banyak saudara-saudara kita yang merasakan berjuang sendiri dalam mencapai keberhasilan dakwah. Padahal kita memiliki visi misi serta impian yang sama untuk kemenangan dakwah ini. Disaat ada ikhwah yang tertatih dan terseok-seok dalam menjalankan amanahnya, sedanngkan yang lain terbuai pada kenikmatan dan kenyamanan dunia yang begitu melenakan. Ikhwah, sejauh mana kekuatan iman kita bisa dilihat dari penerapan ukhuwah kita terhadap saudara kita, Ketika iman memiliki makna diyakini dalam hati, diucapkan dengan lisan, dan diperbuat dengan anggota badan, ukhuwahpun juga memiliki makna demikian. Tanyakan pada hati kita masing-masing apakah ukhuwah kita denngan saudara kita benar-benar sudah tertanam dalam hati kita, apakah kita sudah mencapai derajat ta'liful qulb?Ikhwah, sesekali kita memang harus menyatakan kepada saudara kita bahwa kita mencintai dan menyayanginya. Mungkin terkdang kita enggan dan merasa malu untuk menyatakan bahwa kita mencintai dan menyayangi mereka. Hal ini tidak jadi masalah asal perbuatan dan sikap kita sudah bisa mewakili dari rasa cinta dan kasih sayang itu. Jangan sampai ada rasa penyesalan pada diri kita disaat orang-orang yang kita sayangi pergi meninggalkan kita untuk selamanya sedangkan kita belum sempat menyatakan bahwa kita menyayanginya. Bila kita kembalikan ke amanah kita sebagai aktivis dakwah kampus, tak jarang kita menjumpai antar sesama ikhwah saling bersaing, berselisih, bahkan menaruh dendam hanya karena persoalan sepele. jika hal ini dibiarkan berlarut maka akan menghambat kinerja dakwah kita. Bagaimana kita bisa beramal jama'i dalam kerja dakwah ini kalau itsar terhadap sesama ikhwah saja terlebih dia adalah partner kerja kita dalam dakwah belum bisa kita tunaikan.
Hati ini seolah menangis dalam kesepian, disaat kita memerlukan seseorang untuk mendengarakan keluh kesah kita tapi tak ada lagi rasa kepercayaan. Ya...rasa kepercayaan itu sepertinya mulai memudar dikalangan para ikhwah. Sikap tertutup dan tidak merasa butuh bantuan orang lain mulai timbul dalam diri seorang kader. Tanyakan pada diri kita masing-masing. Apakah kita pernah menghubungi atau sekedar menyampaikan masalah kita dan menceritakan apa adanya kepada murobbi kita, sahabat kita?Kalau mungkin ada diantara kita yang mempunyai binaan dan menjadi seorang binaan, bisa jadi antum sekarang ini tidak mengetahui permasalahn yang dihadapi binaan antum, bisa jadi binaan antum sekarang sedangn menghadapi permasalah yang sangat berat namun antum sebagai murobbinya tidak peka akan hal itu, jadi wajar jika banyak kader pemula atau bahkan sudah lama mengikuti halaqah tarbiyah ujung-ujungnya keluar dari jama'ah ini. Bisa jadi saudara-saudara kita banyak yang futur karena kita sebagai saudaranya tidak memiliki kepekaan terhadap saudara kita yang sedangn dirundung masalah. Ikwah, aktivis dakwah kampus hanyalah manusia biasa, mereka bukanlah barisan jama'ah malaikat. Jadi wajar, jika sifat-sifat manusiawi itu timbul pada diri mereka, termasuk kita. Kita membutuhkan seorang sahabat karib, sahabat terdekat, yang akan setia menemani liku-liku perjalanan hidup ini khususnya dalam mengemban amanah ini.
Saya berharap, sedikit penggambaran fenomena ukhuwah di kalangan aktivis dakwah ini bisa menjadi pelajaran bagi kita semua bahwasanya bisa jadi impian dan cita-cita dakwah yang kita inginkan semakin jauh dari kenyataan lantaran kita sendiri yang menjadi penyebabnya. Oleh karena itu, marilah kita perbaiki iman kita, aqidah kita, sehingga kenikmatan ukhuwah yang sesungguhnya bisa kita rasakan. Tak ada lagi beban dan kegundahan yang menghantui sepanjang perjalanan kita dalam mengarungi dan menyelami kehidupan dakwah kampus ini. Marilah kita saling mendo'akan saudara-saudara kita disetiap rabithah yang kita lantunkan di tiap pagi dan petang. Semoga Allah mengikat hati kita dalam ikatan cinta dan kasih sayang-Nya...Amin
Teruntuk Saudaraku :
Sungguh indah ikatan persaudaraan yang dilandasi dengan iman
Semuanya terasa manis dan nikmat
Tiada dusta, persengketaan, dan pengkhianatan….
Aura pancaran iman menyinari hati yang terang
Menghasilkann sebuah simpul ukhuwah yang kuat
Merindu dan menanti
Namun…
Semakin tinggi pohon akan semakin kencang angin yanng menerpa
Imanpun menjadi taruhan atas menjulangnya pohon kebaikan
Apakah akar yang mengujam ke dasar bumi tidak cukup kuat untuk menahan hempasan angin
Sungguhsesak dada ini…
Jika iman tak sekuat yg dulu..
Kemanakah engkau saudaraku
Tidakkah engkau ingat akan masa2 manis itu
Meskipun kaki ini tertatih melangkah
Tujuan kemanapun tercapai jua
Lalu apa yang membuat kita seperti ini?
Apa engkau lupa akan hal itu semua
Sesak dada ini…
disaat akar mulai tak kokoh
disaat iman mulai melemah…
Disaat ini juga kekuatan besar itu harus tumbuh
Apa hanya karena ego kita yang memuncak
Kita lupa akan hakikat persaudaraan itu
Kini….
Di keheningan malam aku hanya bisa merenung dan memohon
Berharap cucuran air mata akan berujung pada cahaya yang berbinar
Menerangi hati yg kini gelap gulita
Semoga ukhuwah itu bisa kita rajut kembali
Maafkan aku saudaraku….
Oleh : Sang Perindu Ukhuwah (Saiful Amin)

1 komentar:
Assalamu'alaykum.
Ukhuwah yang indah itu bagai oase di padang yang kering. Bener kata njenengan, Pak (afwan, kalo manggil Akh saya rada gimana, kalo manggil Kak terlalu sekuler), ukhuwah para kader dakwah sering tercemari. Masalahnya adalah bagaimana mewujudkan ukhuwah yg baik? Kenapa yg ditanyakan selalu amal yaumi? Kenapa yg ditanyakan hanya proker mana yg sudah berjalan? Sesekali atau mungkin harusnya kita selalu bertanya pada yang lain dengan senyuman tentang hal yg bisa membangkitkan kepercayaannya. Oh iya, masalah senyuman. Saya rasa banyak yang sukar senyum. Lain kali kalo bikin acara ada tema senyumnya aja, Pak :D
Segitu dulu.
Wassalam.
Posting Komentar